Rabu, 01 September 2010

Sang Wali Qutub (Abuya Dimyati)

Alangkah ruginya orang Indonesia kalau tidak mengenal ulama satu ini. Orang bulang Mbah Dim, Banten atau Abuya Dimyati bin Syaikh Muhammad Amin. Beliau adalah tokoh kharismatik dunia kepesantrenan, penganjur ajaran Ahlusunah Wal Jama’ah dari pondok pesantren, Cidahu, Pandeglang, Banten. Beliau ulama yang sangat konsen terhadap akhirat, bersahaja, selalu menjauhi keduniawian. Wirangi (hati-hati dalam bicara, konsisten dalam perkataan dan perbuatan). Ahli sodakoh, puasa, makan seperlunya, ala kadarnya seperti dicontohkan Kanjeng Nabi, humanis, penuh kasih sesama umat manusia. Kegiatan kesehariannya hanya mulang ngaji (mengajar ilmu), salat serta menjalankan kesunatan lainnya.

Beliau lahir sekitar tahun 1925 anak pasangan dari H.Amin dan Hj.Ruqayah. Sejak kecil Abuya Dimyathi sudah menampakan kecerdasannya dan keshalihannya, beliau belajar dari satu pesantren ke pesantren lainnya mulai dari Pesantren Cadasari, kadupeseng Pandeglang, ke Plamunan hingga ke Pleret Cirebon. Semasa hidupnya, Abuya Dimyathi dikenal sebagai gurunya dari para guru dan kiainya dari para kiai, sehingga tak berlebihan kalau disebut sebagai tipe ulama Khas al-Khas. Masyarakat Banten menjuluki beliau juga sebagai pakunya daerah Banten, di samping sebagai pakunya negara Indonesia . Di balik kemasyhuran nama Abuya, beliau adalah orang yang sederhana dan bersahaja. Kalau melihat wajah beliau terasa ada perasaan ‘adem’ dan tenteram di hati orang yang melihatnya.



Abuya Dimyati, begitu panggilan hormat masyarakat kepadanya, terlahir tahun 1925 di tanah Banten, salah satu bumi terberkahi. Tepatnya di Kabupaten Pandeglang. Abuya Dimyathi dikenal sosok ulama yang cukup sempurna dalam menjalankan perintah agama, beliau bukan saja mengajarkan dalam ilmu syari’ah tetapi juga menjalankan kehidupan dengan pendekatan tasawuf, tarekat yang dianutnya tarekat Naqsabandiyyah Qodiriyyah. Maka wajar jika dalam perilaku sehari-hari beliau penuh tawadhu’, istiqamah, zuhud, dan ikhlas. Abuya adalah seorang qurra’ dengan lidah yang fasih. Wiridan al-Qur’an sudah istiqamah lebih dari 40 tahun. Kalau shalat tarawih di bulan puasa, tidak turun untuk sahur kecuali setelah mengkhatamkan al-Qur’an dalam shalat.. Oleh karenanya, tidak salah jika kemudian kita mengategorikan Abuya sebagai Ulama multidimensi.



Dibanding dengan ulama kebanyakan, Abuya Dimyathi ini menempuh jalan spiritual yang unik. Beliau secara tegas menyeru: “Thariqah aing mah ngaji!” (Jalan saya adalah ngaji). Sebab, tinggi rendahnya derajat keualamaan seseorang bisa dilihat dari bagaimana ia memberi penghargaan terhadap ilmu. Sebagaimana yang termaktub dalam surat al-Mujadilah ayat 11, bahwa Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan. Dipertegas lagi dalam hadis nabi, al-Ulama’u waratsatul anbiya’, para ulama adalah pewaris para nabi. Ngaji sebagai sarana pewarisan ilmu. Melalui ngaji, sunnah dan keteladanan nabi diajarkan. Melalui ngaji, tradisi para sahabat dan tabi’in diwariskan. Ahmad Munir berpendapat bahwa ilmu adalah suatu keistimewaan yang menjadikan manusia unggul atas makhluk lain guna menjalankan fungsi kekhalifahannya.



Saking pentingnya ngaji dan belajar, satu hal yang sering disampaikan dan diingatkan Mbah Dim adalah: “Jangan sampai ngaji ditinggalkan karena kesibukan lain atau karena umur”. Pesan ini sering diulang-ulang, seolah-olah Mbah Dim ingin memberikan tekanan khusus; jangan sampai ngaji ditinggal meskipun dunia runtuh seribu kali! Apalagi demi sekedar hajatan partai. Urusan ngaji ini juga wajib ain hukumnya bagi putra-putri Mbah Dim untuk mengikutinya. Bahkan, ngaji tidak akan dimulai, fasal-fasal tidak akan dibuka, kecuali semua putra-putrinya hadir di dalam majlis. Itulah sekelumit keteladanan Mbah Dimyati dan putra-putrinya, yang sejalan dengan pesan al-Qur’an dalam surat al-Tahrim ayat 6, Qu anfusakum wa ahlikum naran.



Dahaga akan ilmu tiada habis, satu hal yang mungkin tidak masuk akal bila seorang yang sudah menikah dan punya putra berangkat mondok lagi, bahkan bersama putranya. Tapi itulah Abuya Dimyati, ketulusannya dalam menimba ilmu agama dan mensyiarkannya membawa beliau pada satu tingkat di atas khalayak biasa.

Abuya berguru pada ulama-ulama sepuh di tanah Jawa. Di antaranya Abuya Abdul Chalim, Abuya Muqri Abdul Chamid, Mama Achmad Bakri (Mama Sempur), Mbah Dalhar Watucongol, Mbah Nawawi Jejeran Jogja, Mbah Khozin Bendo Pare, Mbah Baidlowi Lasem, Mbah Rukyat Kaliwungu dan masih banyak lagi. Kesemua guru-guru beliau bermuara pada Syech Nawawi al Bantany. Kata Abuya, para kiai sepuh tersebut adalah memiliki kriteria kekhilafahan atau mursyid sempurna, setelah Abuya berguru, tak lama kemudian para kiai sepuh wafat.(hal 396).

Ketika mondok di Watucongol, Abuya sudah diminta untuk mengajar oleh Mbah Dalhar. Satu kisah unik ketika Abuya datang pertama ke Watucongol, Mbah Dalhar memberi kabar kepada santri-santri besok akan datang ‘kitab banyak’. Dan hal ini terbukti mulai saat masih mondok di Watucongol sampai di tempat beliau mondok lainya, hingga sampai Abuya menetap, beliau banyak mengajar dan mengorek kitab-kitab. Di pondok Bendo, Pare, Abuya lebih di kenal dengan sebutan ‘Mbah Dim Banten’ dan mendapat laqob ‘Sulthon Aulia’, karena Abuya memang wira’i dan topo dunyo. Pada tiap Pondok yang Abuya singgahi, selalu ada peningkatan santri mengaji dan ini satu bukti tersendiri di tiap daerah yang Abuya singgahi jadi terberkahi



Namun, Kini, waliyullah itu telah pergi meninggalkan kita semua. Abuya Dimyathi tak akan tergantikan lagi. Malam Jumat pahing, 3 Oktober 2003 M/07 Sya’ban 1424 H, sekitar pukul 03:00 wib umat Muslim, khususnya warga Nahdlatul Ulama telah kehilangan salah seorang ulamanya, KH. Muhammad Dimyati bin KH. Muhammad Amin Al-Bantani, di Cidahu, Cadasari, Pandeglang, Banten dalam usia 78 tahun. Padahal, pada hari itu juga, dilangsungkan acara resepsi pernikahan putranya. Sehingga, Banten ramai akan pengunjung yang ingin mengikuti acara resepsi pernikahan, sementara tidak sedikit masyarakat –pelayat- yang datang ke kediaman Abuya. Inilah merupakan kekuasaan Allah yang maha mengatur, menjalankan dua agenda besar, “pernikahan” dan “pemakaman”. (tor/abu-abu/Dari berbagai sumber)
Terakhir Diperbaharui ( Tuesday, 25 August 2009 )

karomah abah anom

KAROMAH ABAH ANOM MENYADARKAN TANTANGAN KIAI SAKTI PILIH TANDING

Diterima dari mantan ketua Yayasan Pondok Pesantren Suryalaya Perwakilan Sumedang Bapak Etje Juardi beliau menerima dari orang yang bersangkutan, Kiai Sakti.

Diceritakan Bapak Etje Juardi, ada Ulama yang dikenal sakti mandraguna tanpa pilih tanding, namanya Kiai Jured. Beliau sudah mengenal akan kemasyhuran dan ke Ulamaannya Abah Anom yang memiliki jutaan pengikutnya dan terus berkembang sampai keluar negeri.

Suatu hari Kiai tersebut memiliki rencana untuk menguji karomah Abah Anom dengan kesaktian yang dimilikinya.

Kiai tersebut datang ke Pondok Pesantren Suryalaya dengan satu bis yang membawa 70 santrinya. Semua santri disebar disekitar Pesantren Suryalaya, setelah Kiai itu masuk ke halaman Abah Anom, tidak disangka Abah Anom sudah berada didepan madrasah dan menyuruh Kiai untuk masuk ke madrasah Abah Anom bersama 70 santrinya yang telah disebar. Kiai tersebut merasa kaget akan kasyaf (penglihatan batin)nya Mursyid TQN. Abah Anom meminta Kiai tersebut dan para santrinya untuk makan dahulu yang telah Beliau sediakan di madrasah.

Di dalam madrasah Kiai memuji Abah Anom tentang pesantren Beliau yang sangat luas nan indah, tetapi dibumbui kritik secara halus tentang kekurangan pesantrenya yaitu tidak adanya burung cendrawasih, burung yang terkenal akan bulunya yang indah. Beliau hanya tersenyum dan menimpalinya dengan jawaban yang singkat : “Tentu saja Kiai”. Suatu di luar jangkauan akal setelah jawaban itu burung cendrawasih yang berbulu indah melayang-layang di dalam madrasah yang sesekali hinggap. Kejadian itu membuat terpesonanya akan karomah yang dimiliki Beliau, Kiai itu diam seribu bahasa.

Keajaiban lagi, ketika makan dengan para santrinya yang 70 pun nasi yang di sediakan dalam bakul kecil itu tidak pernah habis, hal itu mengingatkan akan kejadian mujizatnya Rosulullah saw . Kiai itu sangat kagum akan karomah yang dimiliki Beliau dan merasa kesaktian yang dimilikinya dan dibanggakannya itu sudah tidak ada artinya dihadapan Mursyid Thoriqoh Qodiriyyah wan Naqsyabandiyyah Syekh Ahmad Shohibul Wafa Tajul ‘Arifin atau yang lebih dikenal dengan sebutan Abah Anom.

Benarlah ungkapan : “diatas langit ada langit”. Namun, Kiai ini masih penasaran dan tidak mau kalah begitu saja, setelah makan Kiai tersebut meminta kepada Beliau untuk mengangkat kopeah/peci yang telah “diisi“, yang sebelumnya dicoba oleh para santrinya tidak terangkat sedikitpun. Subhanallah .. hanya dengan tepukan tangan Abah Anom ke lantai kopeah itu melayang-layang, Kiai merasa malu dan kalah lagi.

Selanjutnya Kiai tersebut mengeluarkan batu yang telah disediakan sebelumnya, dan batu itu dipukul dengan “kekuatan” tangannya sendiri sehingga terbelah menjadi dua, sedangkan belahannya diberikan kepada Abah Anom. Kiai itu meminta kepada Abah Anom untuk memukulnya sebagaimana yang telah dicontohkannya.

Abah Anom mengatakan kepada kiai itu : “Abah tidak bisa apa-apa, yang bisa membelah itu adalah Allah, baiklah abah hanya minta kepada Allah itu pun kalo diizinkan,” selanjutnya batu itu diusap oleh tangan Mursyid dan batu itu menjadi air ,subhanallah…

Namun kiai tersebut masih penasaran karena kesaktiannya belum bisa mengalahkan karomah Abah Anom sebagai Mursyid Thoriqoh Qodiriyyah wan Naqsyabandiyyah. Kiai mencoba menguji lagi karomah Beliau dengan kelapa yang telah dibawa santri dari daerahnya. Kiai tersebut meminta yang aneh-aneh kepada Abah Anom agar isi dalam kelapa tersebut ada ikan yang memiliki sifat dan bentuk tertentu.

Dengan tawadlunya Abah Anom menjawab: “Masya Allah, kenapa permintaan kiai ke Abah berlebihan?, Abah tidak bisa apa-apa . Seharusnya minta kepada Allah saja ,jangan kepada Abah. Hanya Allah lah yang bisa mewujudkan segala sesuatu karena Dia Maha Berkehendak dan Berkuasa”. Kiai itu masih penasaran akan permohonanya kepada Abah Anom, selanjutnya Abah Anom berkata : “ Baiklah kalau begitu, kita memohon kepada Allah. Mudah-mudahan Allah mengabulkan kita”. Setelah berdoa Beliau menyuruh kelapa itu untuk dibelah dua, dan dengan izin Allah didalam kelapa itu ada ikan yang sesuai dengan permintaan sang kiai. Subhanalllah…

Selanjutnya, entah darimana datangnya di tangan Abah Anom sudah ada ketepel, dan ketepel itu diarahkan atau ditembakan kelangit-langit madrasah, sungguh diluar jangkauan akal, muncul dari langit-langit burung putih yang jatuh dihadapan Kiai dan Beliau

Setelah kejadian itu, Kiai menangis dipangkuan Abah Anom, sadar dan memohon maaf atas kesombongan dan kesalahannya. Akhirnya Kiai memohon kepada Abah Anom untuk diangkat menjadi muridnya dan menjadi seorang pengamal Thoriqat Qodiriyyah wan Naqsyabandiyyah .
Kiai itu ditalqin dzikir TQN (diajarkan dzikir Thoriqat Qodiriyyah wan Naqsyabandiyyah), dengan talqin dzikir itu menyadarkan akan adanya Allah Yang Maha Mengetahui akan perbuatan jahat makhluqnya baik lahir maupun batin dan Maha Kuasa atas segala sesuatu. Setelah ditalqin Kiai menangis dipangkuan Abah Anom sampai tertidur. Anehnya, Bangun dari tidur sudah berada dimesjid. Subhanallah…
Posted by Mohamad Hardyman As-Sarawaqi at 9:30 AM

Akal dan Nurani


Sebagai manusia, kita adalah mahkluk paling sempurna yang diciptakan oleh Nya. Mahkluk yang sempurna karena berakal dan bernurani. Dua kesempurnaan yang dikaruniakan secara berimbang, tapi dalam kenyataan memiliki takaran yang berbeda pada setiap orang. Dua kesempurnaan yang sebenarnya dapat difungsikan sekaligus agar selaras, tapi banyak juga manusia yang merasa cukup jika sebagian-sebagianya saja yang digunakan, kebutuhanlah yang menjadi alasan.
Akal terkadang mendominasi hingga dapat tercapai banyak manfaat, tapi kemudian muncul juga berbagai masalah pelik karena yang telah dicapai pada akhirnya hanya mendapatkan jawaban hambar, itu karena jika yang menjadi pertanyaan adalah untuk apa kita diciptakan sebagai manusia. Dari hal itu barulah Nurani terasa penting, nurani memang tetap tak bisa dilepaskan selama kita masih hidup di dunia fana ini. Meski sengaja diacuhkan, dibiarkan terpendam jauh di alam bawah sadar, pada waktunya nanti tetap harus diberdayakan karena kehidupan hanya akan ada bila masih ada nurani pada manusia.
Dengan nurani, secara sejati kita meyakini akan keagunganNya. Dan akhirnya karena akal juga, kita tahu bahwa banyak cara untuk mencapai ridho dari Dia Yang Maha Agung. Secara umum segala hal apa saja, banyak jenisnya, asal masih mengatasnamakan kebaikan atau amal ibadah, adalah upaya yang dapat ditempuh untuk mencapai hal tersebut. Tapi sadarkah kita sebagai mahkluk sempurna yang berakal dan bernurani ini, bahwa meski banyak cara untuk mencapai RidhoNya, tapi belum tentu segala upaya kita tersebut dengan mudah mendapatkan RidhoNya begitu saja.
Sebagai mahklukNya yang sempurna, kita tetap saja lemah di hadapanNya. Tak ada yang mengetahui rahasiaNya. Begitu juga mengenai Ridho yang kita harapkan dariNya. Untuk itu keimanan terhadap agama yang benar adalah kuncinya, meski Allah dengan kemurahanya tetap memberikan petunjuk bagi mereka yang dikatakan kurang keimanan atau bahkan tidak beriman sama sekali. Mereka tetap dapat membaca itu melalui akal dan logika mereka bahwa “Perdayakanlah nurani, jadilah orang alim, maka kau akan menjadi orang baik di bumi ini”. Namun ada satu pertanyaan penting yang tidak akan pernah bisa terjawab, bahwa siapa di dunia ini yang dapat menentukan beriman atau tidaknya seseorang sampai akhir hayat hidupnya nanti ?. Semua itu hanya Dia Yang Maha Tahu, karena hanya Dia pula yang berkuasa memberikan ridho dan hidayahNya.
Jadilah orang alim, maka akan menambah cukup banyak orang-orang alim di dunia ini, namun itu beriringan pula dengan kian bertambahnya pendosa yang bertebaran di muka bumi ini. Diantara mereka mungkin termasuk kalian, kita, atau saya sendiri. Tapi yang jadi pertanyaan, termasuk dalam kelompok manakah kita. Orang alim, pendosa, atau keduanya ?. Lantas siapa diantara kita yang berhak menyadangkan predikat itu. Apakah mungkin diri kita sendiri ?. Atau berdasarkan pendapat orang lain, karena dikatakan hanya orang lainlah yang dapat menilai diri kita. Tapi jika memang begitu, yang dilihatpun hanya mengenai penampilan luarnya saja, bagaimana dengan dalamnya hati ?, manusia mana yang lebih tahu selain diri kita sendiri.
Akhirnya kita kembali lagi pada satu jawaban yang paling benar bahwa hanya Dialah yang tahu segalanya. Sebagai manusia kita hanya bisa berusaha dan berharap. Tindakan mengira-ngira secara berlebihan atau terlalu yakin adalah prilaku yang salah, karena nantinya dapat berkembang menjadi bibit kesombongan terhadap diri sendiri, atau tindakan yang dapat menghakimi orang lain dengan alasan yang sebenarnya kita sendiri tak sanggup untuk memahami.
Semestinya akal dan nurani yang dikaruniakan kepada manusia adalah untuk diperdayakan secara timbal-balik, karena tanpa salah satunya maka akan ada ketimpangan yang terjadi dalam kehidupan. Tapi meski kita dikaruniakan akal untuk memikirkan prilaku kita yang sesuai dengan nurani ataupun juga sebaliknya, tetap saja terkadang tindakan kita tetap tak bisa dikatakan berakal atau bernurani, mungkin karena itulah sisi lain sifat manusia yang sudah ada sejak nabi Adam diciptakan. Atau mungkin inikah kelemahan kita yang dikaruniakan akal dan nurani secara sekaligus, hingga selalu berputar-putar diantara dua pilihan, baik dan buruk, hitam dan putih. Tidak seperti sang Malaikat atau Iblis sekalipun.
Sejak dulu sangat sedikit atau mungkin saja tak ada diantara kita yang sanggup menanggung beban sebagai manusia sempurna. Secara kodrat, tak ada manusia yang tak pernah tergoda dan luput dari dosa. Tapi itulah kesempurnaan yang sepantasnya untuk manusia, adalah kesempurnaan yang tak luput dari kekurangan, karena kesempurnaan kekal tetap hanya milikNya. Jika kau diciptakan sebagai malaikat tentu tak ada sedikitpun keraguan untuk bersujud padaNya, karena telah menjadi saksi secara nyata. Begitupun dengan iblis, meski selalu menebar dosa hingga akhir hayat alam ini nanti, sebenarnya dia tetap meyakini secara mutlak akan kebesaranNya. Maka manusia akan lebih sempurna dari kedua mahkluk istimewa Allah tersebut, jika memiliki keimanan yang kuat meski dia tak pernah menjadi saksi secara nyata seperti malaikat, dan selalu bertobat meski tetap tak luput dari tipu daya iblis yang juga tak bisa menyangkal kebesaranNya.
Semua mahkluk di dunia ini adalah sama di hadapanNya. Orang alim ataupun pendosa, baik dan jahat, serta keimanan dan ketaqwaan seseorang, tetap hanya Dia yang paling tahu. Masing-masing kita berhak menilai sebatas kemampuan kita sebagai manusia, tapi jangan sampai bertindak keterlaluan terhadap sesama hingga melebihi kekuasaanNya. Kita mungkin bisa membaca sikap namun tak ada yang tahu isi hati manusia lain.
Seseorang alim yang taat beribadah dan dari mulutnya sering melantunkan ayat suci, tapi bisa saja tidak menyadari bahwa dengan kealiman itu perlahan dapat membuat dia lalim, karena menjadikan dia berprasangka buruk terhadap kaum lain, merasa dia yang paling benar, selalu membenarkan pendapat dan ingin menang sendiri. Dengan segala prilaku alimnya itu, dia merasa telah mendapatkan ridhoNya, tapi manusia mana yang bisa tahu.rahasianNya?.
Orang alim bukanlah yang sering melakukan dosa, tapi tidak bedanya dengan para pendosa, karena tetap tak luput dari dosa. Apalagi jika tindakan itu tanpa disadari hanyalah kepura-puraan di hadapaNya. Sedangkan adalah kebenaran bahwa hanya Dia Yang maha Tahu !. Selalu sujud dan berserah padaNya, tapi tak pernah tercerminkan dalam sikap sehari-hari adalah ibadah yang percuma dan penuh pura-pura. Menipu Dia yang tak bisa dibohongi, menipu sesama dengan berpura-pura alim, atau menipu diri sendiri yang mempunyai akal dan nurani.
Sedangkan apakah kalian bisa tahu bahwa para pendosa atau penjahat sekalipun bisa saja mendapat ridhoNya. Mereka yang selama di dunia ini lebih pantas dicerca dengan segala prilaku yang diperbuat, juga tetap sama mengharap surga di hari itu kelak. Intinya mereka juga manusia yang mempunyai akal dan nurani, dan pintu taubat bisa terbuka kapan saja hingga di ujung ajal sekalipun. Mereka bisa saja adalah kalian atau saya sendiri, dan kita tetap merupakan hamba Allah yang tetap bisa mendapat RidhoNya. Namun hanya dia Yang Maha Tahu.
Inilah tulisan yang dibuat oleh orang yang tak luput dari dosa, karena dari kalimat tulisan ini begitu menggambarkan sisi keegoisan, terlalu berprasangka dan membenarkan diri sepihak. Membenarkan diri sendiri sebagai seorang pendosa atau seorang yang alim, berpura-pura alim yang sesungguhnya hanyalah pendosa. Tapi tetap ada satu tujuan dari penulis untuk menulis tulisan ini, bahwa cukuplah kemajuan zaman membuat bumi ini berangsur tua dan menyingkat usianya. Namun kenapa itu harus juga dibarengi dengan cara pikir manusia sebagai mahkluk Allah yang semakin jauh dari keseimbangan antara akal dan nurani untuk mencapai kebenaran yang hakiki. Kemajuan zaman ini bisa membuat manusia sangat mengagung-agungkan akal dalam segala tindakan, hingga nurani tak diperdulikan. Atau juga karena terpuruk dalam kemajuan, hingga nurani yang menjadi alasan tergampang sebagai pelampiasan. Terkurung dalam pemikiran sempit bahwa nurani dapat berjalan sendiri tanpa memperdulikan akal, segala harus serba lurus dan putih, dengan cara yang dibuat dan dimengerti sendiri, apakah itu jalan paling benar menurutNya dan dapat mencapai Ridhonya ?.
Saya yakin Dia Maha Adil dan Maha Tahu, keridhoan yang diberikan pada hambanya tidak berdasarkan sisi luar atau materinya saja. Percuma jika yang dikatakan emas tak lebih dari barang imitasi, sedangkan kilauan indah permata awalnya tak lebih dari onggokan lumpur. Hanya Dia Yang Tahu semua itu, dan janganlah kita melebihi Dia. Cukup tanamkan pada pikiran akal dan nurani kita, terutama untuk saya sendiri khususnya, bahwa jika ingin mengharapkan ridhoNya maka setiap apa yang dilakukan haruslah dengan niat baik kepadaNya dan juga perasangka baik terhadap sesama. Itu saja dulu, dimulai dari sekarang.

Yakinlah pada kata hati

Jika isi hatimu mengatakan kau harus berbuat sesuatu yang bermanfaat bagi dirimu, tidak menyalahi norma dan aturan, serta tidak mengganggu orang lain, maka lakukanlah. Meski itu bertentangan dengan pendapat lain disekitarmu. Cukuplah kau bertanya sendiri, memangnya kenapa mereka harus ikut campur dalam segala hal yang kau lakukan, bukankah itu sama sekali tidak mengganggu siapa-siapa ?. Dan berpikirlah secara positif untuk menemukan jawabanya, jauhkanlah buruk sangka. Dengan begitu kau akan menemukan kepuasan hakiki, tidak akan ada penyesalan, karena sudah terlihat caramu benar untuk mencapai apa yang dianggap baik oleh kata hatimu.

Memang tidak gampang untuk bersikap seperti itu, apalagi jika telah tertanam pada dirimu sejak dulu untuk lebih mementingkan pendapat orang lain terhadap segala hal yang kau lakukan, kau takut dianggap salah, takut dianggap beda dan lain dari mereka. Padahal sebenarnya kau juga tidak akan menemukan kebahagiaan dalam hidup jika terus saja mengharapkan penilaian orang lain tentang dirimu. Tiap manusia memiliki isi hati, maksud dan cara bersikap yang berbeda-beda, dan percuma jika kau hanya mengharapkan mereka memiliki satu anggapan saja terhadapmu. Tapi kau dan ragamu hanya satu dan memiliki satu hati pula, maka cukuplah kau yang selalu berusaha agar cara bersikapmu terhadap mereka sesuai dengan satu maksud dari isi hati. Cukup satu saja, yaitu berpikir positif.

Dengan begitu, bukan berarti tulisan ini ingin menyatakan bahwa apa yang kau lakukan selama ini selalu benar dan tidak pernah salah, tidak sama sekali. Karena memang butuh waktu dan pengorbanan untuk belajar memahami isi hati. Awalnya, kau bisa saja berulang-ulang melakukan kesalahan karena belum bisa mengikuti isi hati, karena kau tidak ingin merasa tersisih, tidak ingin meninggalkan hal yang telah menjadi kebiasaan, atau menjauhi apa yang disenangi serta terpisah dari hal yang dicintai, meski itu semua memang tidak sesuai dengan isi hatimu. Jadi, justru sebenarnya kau adalah manusia yang sering melakukan kesalahan, tapi ingin berubah dan coba belajar memahami isi hati, dengan konsekuensi harus rela mengorbankan semua yang bertentangan dengan isi hati. Lantas kenapa tidak, jika memang itu yang terbaik untuk mu.

Sejarah mencatat bahwa orang berhasil adalah mereka yang selalu belajar dari banyak kesalahan, dan dari awal mereka hanya mempunyai harapan, tanpa pernah tahu secara pasti akan hasil yang didapat. Tapi karena mau belajar dan sungguh-sungguh dalam berusaha, maka apa yang tercapai pun pada akhirnya melebihi dari apa yang pernah diharapkan. Dan lantas mereka tidak menjadi angkuh atas apa yang telah dicapai, karena pengalaman terdahulu yang mengajarkan bahwa itu adalah tindakan sia-sia yang dapat menjatuhkan mereka kembali pada kubang kesalahan.Tentunya itu juga karena dorongan kata hati yang mereka yakini. Dan tanpa perlu memahami berbagai teori tentang orang yang telah berhasilpun, sebenarnya kita semua sudah tahu bahwa hasil yang baik hanya akan tercapai dengan niat dan cara yang baik pula.

Yang menulis tulisan ini bukanlah orang yang telah berhasil, dia juga masih sering melakukan kesalahan dan mementingkan pendapat orang lain dibandingkan kata hatinya sendiri. Berbagai tulisanya kerap dianggap basa-basi yang tak pantas disebut tulisan dari seorang penulis. Tapi semoga dengan menulis ini, dikarenakan kata hatinya yang berbicara. Karena untuk kesekian kalinya dia merasa tulisanya dapat bermanfaat, setidaknya buat dia sendiri. Dari tulisan ini, dia mungkin ingin menyampaikan bahwa selalu mencoba berpikir positif terhadap mereka, mereka yang diantaranya adalah orang tak dikenal, teman ataupun saudara.

Yakinlah pada kata hatimu.

HABIB SYAIKHON BIN MUSTHOFA ALBAHAR ( Kelakuan Nyeleneh seorang Wali )

habib syiikhon
Saya penasaran ingin sekali berjumpa dengan Habib Syaikhon bin Mustofha Al bahar, ada cerita- cerita menarik yang saya dengar dari guru guru dan teman teman saya yang pernah berjumpa dengan beliau bahwa ,beliau seorang ulama min Awliyaillah yang Mazdub . Kelakuan yang sering diperlihatkan memang terasa aneh dan ganjil diluar kebiasaan manusia (khorikul a’dah ) bagi pandangan mata awam kita. Sebut saja ketika Habib Syaikhon menghadiri Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW pada saat Mahalul qiyam sedang berlangsung , Habib Syaikhon hanya duduk dan nampak asyik makan dan mengacak acak hidangan yang ada di hadapannya. Para jamaah terperanjat di buatnya namun bagi yang mengerti dan memahami beliau hal tersebut di diamkan saja dan tak ada satupun jamaah yang menegurnya. Dan yang lebih mengherankan lagi sewaktu adzan magrib berkumandang tepat di depan Musholla Habib Syaikhon membawa gitar dan teriak teriak di saat jamaah akan melangsungkan sholat maghrib, tentu saja hal ini membuat marah sang Marbot Mushollah dengan lantang sang Marbot mencaci maki Habib Syaikhon habis habisan. Tiba tiba Habib Syaikhon menjepit leher Marbot tersebut dan di benamkan kedalam ketiaknya, dan tiba tiba marbot tersebut menangis sambil mengatakan ” saya lihat Mekkah….saya lihat Ka’bah dan Marbot tersebut meminta maaf kepada Habib Syaikhon.
Menurut seorang kerabat beliau bernama Sania ibrahim , bahwa untuk dapat bertemu dengan Habib syaikhon mudah saja asalkan punya niat yang baik untuk bersilahturahim , karena Habib Syaikhon sering berpindah pindah tempat , kadang beliau ada di Makam Ayahnya di Masjid Baidho di lubang buaya jakarta timur dan terkadang ada di Gang Nangka Bintara 3, dan menurut cerita kalau bertemu beliau akan di sambut Khodam ( jin ) di depan pintu dan hanya orang orang yang sholeh dan punya niat yang baik yang dapat berjumpa dengan beliau dan apapun kata kata Habib Syaikhon dan kelakuan beliau jangan di terjemahkan dan diartikan seenaknya karena yang tahu maksudnya hanya Alloh swt.
Berbicara tentang sosok Waliyulloh di jaman sekarang memang sangat sulit di nalar oleh akal sehat, Kalau jaman dahulu sosok Waliyulloh dapat di jumpai di setiap daerah karena derajatnya di tinggikan dan di tampakkan karomahnya oleh Alloh SWT sebagai “Himmatul Ummah” sosok manusia yang mempunyai kharisma dan karomah tinggi di hadapan Ummat seperti kisah perjuangan Wali songo tapi di jaman sekarang Derajat dan Karomah kewaliaan tidak semua di tampakkan dan banyak Para Waliyulloh menutup diri dari pandangan sifat manusia karena takut terjadi Fitnah di tengah umat karena kehidupan manusia yang selalu berubah cendrung kepada kehidupan duniawiyah dan jauh dari ilmu agama. Ada beberapa pendapat dari teman teman saya yang mengangap bahwa apa yang saya ceritakan tentang Habib Syaikhon mengada ada , mengandung Kufarat, tahayyul akan tetapi bagi Waliyulloh kemampuan tersebut bukanlah sesuatu yang beliau cari itu adalah anugrah alloh yang diberikan kepada para waliyulloh ,Karena mereka telah melakukan pengembangan potensi ruh dengan cara melakukan amal khariqul ‘adah (amal ibadah yang melampaui lazimnya kesanggupan manusia), lalu Allah pun menganugrahkan kepada mereka kemampuan khariqul ‘adah (kemampuan melakukan sesuatu hal yang berada di luar kemampuan lazimnya manusia).
Teman teman saya yang menolak karamah al-awliya’, disebabkan mereka tidak mengetahui persoalan ini kecuali kulitnya saja. Mereka tidak mengetahui perlakuan Allah terhadap para wali. Sekiranya orang tersebut mengetahui hal-ihwal para wali dan perlakuan Allah terhadap mereka, niscaya mereka tidak akan menolaknya. Penolakan mereka terhadap karamah al-awliya’, disebabkan oleh kadar akses mereka terhadap Allah hanya sebatas menegaskan-Nya bersungguh-sungguh di dalam mewujudkan kejujuran (al-shidq); bersikap benar dalam mewujudkan kesungguhan sehingga meraih posisi al-qurbah (dekat dengan Allah). Sementara mereka buta terhadap karunia dan akses Allah kepada hamba-hamba pilihan-Nya. Demikian juga buta terhadap cinta (mahabbah) dan kelembutan (ra’fah) Allah kepada para wali. Apabila mereka mendengar sedikit tentang hal ini, mereka bingung dan menolaknya.
karomah yang dimiliki para Wali adalah merupakan sesuatu perkara yang terjadi diluar kemampuan akal manusia biasa untuk memikirkan atau menciptakan .perkara itu ( karomah) diberikan Alloh kepada hambanya yang sudah terang kebaikannya( shalehnya), setiap sikap perbuatan dan ucapannya serta keadaan hatinya selalu bergerak sesuai dengan tuntunan ajaran Islam yang dibawa oleh Rosululloh SAW baik dalam segi syaria’t atau aqidah serta akhlaknya.
Oleh karena itu bagi Waliyulloh dengan Karomahnya kadang-kadang tampak keanehan-keanehan baik dalam sikap tindakan dan ucapan yang tidak begitu saja mudah bagi akal manusia biasa untuk memahaminya. Sebagai contoh karomah ialah seperti dapat dilihat adanya peristiwa Maryam yang disebut dalam surat Ali Imron ayat 37, juga peristiwa Ashabul Kahfi dalam surat al kahfi ayat 25 dan tidak berbeda pula halnya dengan Karomah-karomah Para Habaib dan Para Ulama yang saya tulis tersebut seperti karomahnya Al Habib Abduloh bil Faqih yang selalu bertemu langsung dengan Rosululloh begitu pula dengan KH.Hamim Djazuli (Gus Miek) yang melakukan dakwahnya ditempat hiburan malam/diskotik begitupun dengan Habib syaikhon al bahar. Semoga Alloh dapat mempertemukan saya dan mungkin para muhibbin dengan Habib Syaikhon Al bahar sekedar mencium tangan dan menjabat tangannya sebagai rasa Mahabbah dan cinta terhadap Ulama dan waliyulloh. Wallohu a’lam

al habib husien al idrus

Habib Husein al-Idrus Luar Batang Pendiri Pesantren Pertama di Bumi Jayakarta

Sebagai kota besar, wajar jika Jakarta tak bisa lepas dari kesan sebagai gudang 
tempat maksiat dan negatif. Tapi bukan berarti yang baik tak ada di kota 
metropolitan itu. Maka tak salah jika ada yang mengatakan, di Jakarta segalanya 
ada, mulai dari yang paling jelek hingga yang terbaik, tempat mencerburkan diri 
dalam kubangan dosa sekaligus menimba pahala. 
Kawasan tua bernama "Kota" contohnya. Jika malam hari tiba, lampu-lampu tempat 
maksiat semarak, seakan saling berlomba menggaet siapa saja yang lewat. Tapi 
siapa sangka tak jauh dari sana terdapat makam seorang waliyullah, tepatnya di 
daerah bernama Luar Batang. Keberadaan Luar batang sendiri menyimpan satu kisah 
gaib. Satu kawasan ibukota sebelah utara, di pesisir pantai itu, konon dulunya 
merupakan satu pulau kecil, merupakan penjelmaan dari hanya sebatang pohon yang 
berdiri di atas gunung Batang.
Kisah ajaib itu terkait dengan peran seorang wali agung yang datang dari 
Hadramaut Yaman. Husein namanya. Nama lengkapnya Habib Husein bin Abi Bakr 
al-Idrus. Menurut catatan sejarah, beliau datang ke Jakarta (Batavia) pada 1746.
Alkisah, suatu ketika seorang opsir Belanda lewat di depan Habib Husein. Tanpa 
dinyana, Habib memanggil orang itu lalu menepuk pundak perwira itu, dan 
berkata, "Anda harus kembali ke negeri Anda. Anda akan menjadi orang besar."
Perwira itu hanya bisa tertegun. Tetapi lantaran cerita karamah Habib Husein 
sudah masyhur di kalangan masyarakat Betawi, perwira itu pun menuruti sarannya. 
Dan betul saja, tak lama kemudian terdengar kabar bahwa ia telah diangkat 
menjadi seorang gubernur.
Maka, sebagai ungkapan rasa terima kasih, sang gubernur baru itu datang lagi ke 
Batavia hanya untuk bertemu dengan Habib Husein, guna memberikan hadiah khusus, 
yang bentuk dan jenisnya terserah Habib. Tetapi sesampai di sana, ternyata 
Habib menolak segala pemberian itu.
Akhirnya, karena didesak terus, Habib memilih satu kawasan tempat tinggal 
sebagai pusat dakwah, yang tak lain adalah Luar Batang (Konon, dulunya kawasan 
yang dimiliki Habib itu seluas 30 hektar, tetapi kemudian dibagi-bagikan kepada 
warga sekitar).
Sejak itu, Luar Batang menjadi salah satu basis Islam di bumi Jayakarta. Lewat 
pesantren yang didirikan, Islam dapat menyebar ke seantero Betawi. Di Luar 
Batang pula Habib menghabiskan sisa hidupnya, hingga wafat. Kini, Luar Batang 
menjadi kawasan padat penduduk. Bahkan karena dekat pantai, kawasan itu 
terkesan kumuh. Tetapi toh tempat itu tak pernah sepi oleh pengunjung. Selain 
Museum Bahari, di sana terdapat makam Habib Husein yang menjadi tujuan banyak 
peziarah.
Tidak sedikit para peziarah yang 'bermukim' di sana hingga berbulan-bulan, demi 
ngalap barokah sang Habib (Bahkan tak jarang yang datang dari luar Jawa dan 
mancanegara, seperti Timur Tengah, Eropa dan Afrika). Makam yang tak pernah 
sepi itu kian ramai jika malam Jumat tiba. Begitu juga pada peringatan Maulid 
Nabi dan haul wafat beliau (karena wafat pada bulan Ramadan, peringatan haulnya 
diadakan pada bulan Syawal). Hingga kini, sebagian besar rombongan Walisongo 
yang datang dari arah timur menjadikan makam Habib sebagai 'bonus' setelah 
berziarah ke wali kesembilan yakni makam Sunan Gunung Jati Cirebon. 
Dari Luar Batang, umumnya mereka melanjutkan perjalanan ke Banten, ziarah ke 
makam Sultan Hasanuddin bin Sunan Gunung Jati, dan makam waliyullah Syekh 
Nawawi. Kalau kemudian makam Habib Husein menjadi satu tujuan para peziarah, 
itu tak lain karena keagungan Habib Husein, baik budi pekerti maupun ilmu 
pengetahuan agama. Beliau adalah da'i besar di kawasan Batavia abad ke-18 
hingga Islam tersebar luas di sana.
Seorang ilmuwan Belanda Dr Karel Steenbrik dalam tulisannya mengatakan bahwa 
beliau adalah salah satu ulama keturunan Hadramaut yang sangat disegani pada 
saat itu. Generasi pendakwah asal Hadramaut berikutnya antara lain Habib Utsman 
(Mufti Batavia akhir abad ke-19), Habib Abdurrahman al-Misri, Habib Ali bin 
Abdurrahman al-Habsyi (Kwitang), Habib Salim bin Abdullah Sumair, Habib Salim 
bin Jindan, Habib Umar al-Attas dan lainnya.
Untuk menuju ke makam Habib Husein tidaklah sulit. Dari arah Ancol atau Glodok 
Kota, Anda tinggal mencari arah Pasar Ikan atau Museum Bahari di kawasan utara 
Kota. Kalau menggunakan angkutan umum, dari stasiun atau terminal Kota Anda 
dapat menumpang taksi, bajaj atau ojek. Yang menarik, juga tersedia sepeda 
onthel dengan sadel belakang yang sudah modified hingga dijamin empuk seperti 
sepeda motor. 
(washiel hifdzy)

kramat empang bogor

Al Habib Abdullah bin Muhsin bin Muhammad bin Muhsin  bin Husin Al-Atthas  dilahirkan di desa Kasri daerah Hurah, Hadramaut, pada hari Selasa 20 Jumadil Awwal tahun 1265 H. bertepatan dengan tahun 1849 M. Dikalangan awam lebih mengenal dengan sebutan Habib Kramat Empang.
Beliau berguru kepada :
1. Syaikh Umar bin Faraj bin Sabbah
2. Al-Habib Abubakar bin Abdullah Al-Atthas
3. Al-Habib Sholeh bin Abdullah Al-Atthas, di desa Ammad, Hadramaut.
4. Al-Habib Ahmad bin Muhammad Alhabsyi
5. Al-Habib Abdullah bin Alwi Alaydrus, di desa Burdi, Hadramaut, disini ia bermukim cukup lama untuk menuntut ilmu dan membaca beberapa kitab diantaranya  kitab yang dikarang oleh Habib Ahmad  bin Zain Alhabsyi.
6. Al-Habib Ahmad bin Muhammad Al-Muhdor
7. Al-Habib Ahmad bin Abdillah Albar
8. Syekh Abdullah bin Ahmad Baswedan, di Karbah, Hadramaut, ia juga bermukim disini.
Pada tahun 1284 pergi melaksanakan Haji di Mekah , setelah menunaikan ibadah Haji  tidak pulang ketempat tinggalnya Kasri, Hadramaut tapi langsung menuju Pulau Jawa, Indonesia menuntut ilmu kepada Habib Ahmad bin Muhammad bin Hamzah Al-Atthas, di Pekojan, Azzawiyah. Setelah beberapa lama menuntut ilmu kemudian ia pergi menuju Pekalongan,Jawa Tengah. Setelah itu iapun menetap di Empang, Bogor.
Al-Habib Abdullah mengadakan pengajian/majelis ta’lim  dirumah kemudian di Masjid  yang didirikannya dekat rumahnya yang diberi nama  Masjid An-Nur. Muridnya banyak sekali, diantaranya adalah :
1. Al-Habib Alwi bin Muhammad bin Thahir Al-Haddad, Bogor.
2. Syekh Abdullah bin Muhammad Arfan Baraja’, yaitu sewaktu berkunjung ke Indonesia, dimana ia mencatat banyak nasehat-nasehat  dari habib Abdullah, kemudian kembali ke Tarim, Hadramaut dan wafat disana.
3. Al-Habib Abdullah wafat di Empang, Bogor pada hari selasa tanggal  29 Zulhijjah 1351 Hijriyah  bertepatan masuknya dzohor bertepatan akhir tahun, dimakamkan hari Rabu tanggal 1 Muharam 1352 H.