Alangkah ruginya orang Indonesia kalau tidak mengenal ulama satu ini. Orang bulang Mbah Dim, Banten atau Abuya Dimyati bin Syaikh Muhammad Amin. Beliau adalah tokoh kharismatik dunia kepesantrenan, penganjur ajaran Ahlusunah Wal Jama’ah dari pondok pesantren, Cidahu, Pandeglang, Banten. Beliau ulama yang sangat konsen terhadap akhirat, bersahaja, selalu menjauhi keduniawian. Wirangi (hati-hati dalam bicara, konsisten dalam perkataan dan perbuatan). Ahli sodakoh, puasa, makan seperlunya, ala kadarnya seperti dicontohkan Kanjeng Nabi, humanis, penuh kasih sesama umat manusia. Kegiatan kesehariannya hanya mulang ngaji (mengajar ilmu), salat serta menjalankan kesunatan lainnya.
Beliau lahir sekitar tahun 1925 anak pasangan dari H.Amin dan Hj.Ruqayah. Sejak kecil Abuya Dimyathi sudah menampakan kecerdasannya dan keshalihannya, beliau belajar dari satu pesantren ke pesantren lainnya mulai dari Pesantren Cadasari, kadupeseng Pandeglang, ke Plamunan hingga ke Pleret Cirebon. Semasa hidupnya, Abuya Dimyathi dikenal sebagai gurunya dari para guru dan kiainya dari para kiai, sehingga tak berlebihan kalau disebut sebagai tipe ulama Khas al-Khas. Masyarakat Banten menjuluki beliau juga sebagai pakunya daerah Banten, di samping sebagai pakunya negara Indonesia . Di balik kemasyhuran nama Abuya, beliau adalah orang yang sederhana dan bersahaja. Kalau melihat wajah beliau terasa ada perasaan ‘adem’ dan tenteram di hati orang yang melihatnya.
Abuya Dimyati, begitu panggilan hormat masyarakat kepadanya, terlahir tahun 1925 di tanah Banten, salah satu bumi terberkahi. Tepatnya di Kabupaten Pandeglang. Abuya Dimyathi dikenal sosok ulama yang cukup sempurna dalam menjalankan perintah agama, beliau bukan saja mengajarkan dalam ilmu syari’ah tetapi juga menjalankan kehidupan dengan pendekatan tasawuf, tarekat yang dianutnya tarekat Naqsabandiyyah Qodiriyyah. Maka wajar jika dalam perilaku sehari-hari beliau penuh tawadhu’, istiqamah, zuhud, dan ikhlas. Abuya adalah seorang qurra’ dengan lidah yang fasih. Wiridan al-Qur’an sudah istiqamah lebih dari 40 tahun. Kalau shalat tarawih di bulan puasa, tidak turun untuk sahur kecuali setelah mengkhatamkan al-Qur’an dalam shalat.. Oleh karenanya, tidak salah jika kemudian kita mengategorikan Abuya sebagai Ulama multidimensi.
Dibanding dengan ulama kebanyakan, Abuya Dimyathi ini menempuh jalan spiritual yang unik. Beliau secara tegas menyeru: “Thariqah aing mah ngaji!” (Jalan saya adalah ngaji). Sebab, tinggi rendahnya derajat keualamaan seseorang bisa dilihat dari bagaimana ia memberi penghargaan terhadap ilmu. Sebagaimana yang termaktub dalam surat al-Mujadilah ayat 11, bahwa Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan. Dipertegas lagi dalam hadis nabi, al-Ulama’u waratsatul anbiya’, para ulama adalah pewaris para nabi. Ngaji sebagai sarana pewarisan ilmu. Melalui ngaji, sunnah dan keteladanan nabi diajarkan. Melalui ngaji, tradisi para sahabat dan tabi’in diwariskan. Ahmad Munir berpendapat bahwa ilmu adalah suatu keistimewaan yang menjadikan manusia unggul atas makhluk lain guna menjalankan fungsi kekhalifahannya.
Saking pentingnya ngaji dan belajar, satu hal yang sering disampaikan dan diingatkan Mbah Dim adalah: “Jangan sampai ngaji ditinggalkan karena kesibukan lain atau karena umur”. Pesan ini sering diulang-ulang, seolah-olah Mbah Dim ingin memberikan tekanan khusus; jangan sampai ngaji ditinggal meskipun dunia runtuh seribu kali! Apalagi demi sekedar hajatan partai. Urusan ngaji ini juga wajib ain hukumnya bagi putra-putri Mbah Dim untuk mengikutinya. Bahkan, ngaji tidak akan dimulai, fasal-fasal tidak akan dibuka, kecuali semua putra-putrinya hadir di dalam majlis. Itulah sekelumit keteladanan Mbah Dimyati dan putra-putrinya, yang sejalan dengan pesan al-Qur’an dalam surat al-Tahrim ayat 6, Qu anfusakum wa ahlikum naran.
Dahaga akan ilmu tiada habis, satu hal yang mungkin tidak masuk akal bila seorang yang sudah menikah dan punya putra berangkat mondok lagi, bahkan bersama putranya. Tapi itulah Abuya Dimyati, ketulusannya dalam menimba ilmu agama dan mensyiarkannya membawa beliau pada satu tingkat di atas khalayak biasa.
Abuya berguru pada ulama-ulama sepuh di tanah Jawa. Di antaranya Abuya Abdul Chalim, Abuya Muqri Abdul Chamid, Mama Achmad Bakri (Mama Sempur), Mbah Dalhar Watucongol, Mbah Nawawi Jejeran Jogja, Mbah Khozin Bendo Pare, Mbah Baidlowi Lasem, Mbah Rukyat Kaliwungu dan masih banyak lagi. Kesemua guru-guru beliau bermuara pada Syech Nawawi al Bantany. Kata Abuya, para kiai sepuh tersebut adalah memiliki kriteria kekhilafahan atau mursyid sempurna, setelah Abuya berguru, tak lama kemudian para kiai sepuh wafat.(hal 396).
Ketika mondok di Watucongol, Abuya sudah diminta untuk mengajar oleh Mbah Dalhar. Satu kisah unik ketika Abuya datang pertama ke Watucongol, Mbah Dalhar memberi kabar kepada santri-santri besok akan datang ‘kitab banyak’. Dan hal ini terbukti mulai saat masih mondok di Watucongol sampai di tempat beliau mondok lainya, hingga sampai Abuya menetap, beliau banyak mengajar dan mengorek kitab-kitab. Di pondok Bendo, Pare, Abuya lebih di kenal dengan sebutan ‘Mbah Dim Banten’ dan mendapat laqob ‘Sulthon Aulia’, karena Abuya memang wira’i dan topo dunyo. Pada tiap Pondok yang Abuya singgahi, selalu ada peningkatan santri mengaji dan ini satu bukti tersendiri di tiap daerah yang Abuya singgahi jadi terberkahi
Namun, Kini, waliyullah itu telah pergi meninggalkan kita semua. Abuya Dimyathi tak akan tergantikan lagi. Malam Jumat pahing, 3 Oktober 2003 M/07 Sya’ban 1424 H, sekitar pukul 03:00 wib umat Muslim, khususnya warga Nahdlatul Ulama telah kehilangan salah seorang ulamanya, KH. Muhammad Dimyati bin KH. Muhammad Amin Al-Bantani, di Cidahu, Cadasari, Pandeglang, Banten dalam usia 78 tahun. Padahal, pada hari itu juga, dilangsungkan acara resepsi pernikahan putranya. Sehingga, Banten ramai akan pengunjung yang ingin mengikuti acara resepsi pernikahan, sementara tidak sedikit masyarakat –pelayat- yang datang ke kediaman Abuya. Inilah merupakan kekuasaan Allah yang maha mengatur, menjalankan dua agenda besar, “pernikahan” dan “pemakaman”. (tor/abu-abu/Dari berbagai sumber)
Terakhir Diperbaharui ( Tuesday, 25 August 2009 )
Yakinlah pada kata hati
Jika isi hatimu mengatakan kau harus berbuat sesuatu yang bermanfaat bagi dirimu, tidak menyalahi norma dan aturan, serta tidak mengganggu orang lain, maka lakukanlah. Meski itu bertentangan dengan pendapat lain disekitarmu. Cukuplah kau bertanya sendiri, memangnya kenapa mereka harus ikut campur dalam segala hal yang kau lakukan, bukankah itu sama sekali tidak mengganggu siapa-siapa ?. Dan berpikirlah secara positif untuk menemukan jawabanya, jauhkanlah buruk sangka. Dengan begitu kau akan menemukan kepuasan hakiki, tidak akan ada penyesalan, karena sudah terlihat caramu benar untuk mencapai apa yang dianggap baik oleh kata hatimu.
Memang tidak gampang untuk bersikap seperti itu, apalagi jika telah tertanam pada dirimu sejak dulu untuk lebih mementingkan pendapat orang lain terhadap segala hal yang kau lakukan, kau takut dianggap salah, takut dianggap beda dan lain dari mereka. Padahal sebenarnya kau juga tidak akan menemukan kebahagiaan dalam hidup jika terus saja mengharapkan penilaian orang lain tentang dirimu. Tiap manusia memiliki isi hati, maksud dan cara bersikap yang berbeda-beda, dan percuma jika kau hanya mengharapkan mereka memiliki satu anggapan saja terhadapmu. Tapi kau dan ragamu hanya satu dan memiliki satu hati pula, maka cukuplah kau yang selalu berusaha agar cara bersikapmu terhadap mereka sesuai dengan satu maksud dari isi hati. Cukup satu saja, yaitu berpikir positif.
Dengan begitu, bukan berarti tulisan ini ingin menyatakan bahwa apa yang kau lakukan selama ini selalu benar dan tidak pernah salah, tidak sama sekali. Karena memang butuh waktu dan pengorbanan untuk belajar memahami isi hati. Awalnya, kau bisa saja berulang-ulang melakukan kesalahan karena belum bisa mengikuti isi hati, karena kau tidak ingin merasa tersisih, tidak ingin meninggalkan hal yang telah menjadi kebiasaan, atau menjauhi apa yang disenangi serta terpisah dari hal yang dicintai, meski itu semua memang tidak sesuai dengan isi hatimu. Jadi, justru sebenarnya kau adalah manusia yang sering melakukan kesalahan, tapi ingin berubah dan coba belajar memahami isi hati, dengan konsekuensi harus rela mengorbankan semua yang bertentangan dengan isi hati. Lantas kenapa tidak, jika memang itu yang terbaik untuk mu.
Sejarah mencatat bahwa orang berhasil adalah mereka yang selalu belajar dari banyak kesalahan, dan dari awal mereka hanya mempunyai harapan, tanpa pernah tahu secara pasti akan hasil yang didapat. Tapi karena mau belajar dan sungguh-sungguh dalam berusaha, maka apa yang tercapai pun pada akhirnya melebihi dari apa yang pernah diharapkan. Dan lantas mereka tidak menjadi angkuh atas apa yang telah dicapai, karena pengalaman terdahulu yang mengajarkan bahwa itu adalah tindakan sia-sia yang dapat menjatuhkan mereka kembali pada kubang kesalahan.Tentunya itu juga karena dorongan kata hati yang mereka yakini. Dan tanpa perlu memahami berbagai teori tentang orang yang telah berhasilpun, sebenarnya kita semua sudah tahu bahwa hasil yang baik hanya akan tercapai dengan niat dan cara yang baik pula.
Yang menulis tulisan ini bukanlah orang yang telah berhasil, dia juga masih sering melakukan kesalahan dan mementingkan pendapat orang lain dibandingkan kata hatinya sendiri. Berbagai tulisanya kerap dianggap basa-basi yang tak pantas disebut tulisan dari seorang penulis. Tapi semoga dengan menulis ini, dikarenakan kata hatinya yang berbicara. Karena untuk kesekian kalinya dia merasa tulisanya dapat bermanfaat, setidaknya buat dia sendiri. Dari tulisan ini, dia mungkin ingin menyampaikan bahwa selalu mencoba berpikir positif terhadap mereka, mereka yang diantaranya adalah orang tak dikenal, teman ataupun saudara.
Yakinlah pada kata hatimu.
Memang tidak gampang untuk bersikap seperti itu, apalagi jika telah tertanam pada dirimu sejak dulu untuk lebih mementingkan pendapat orang lain terhadap segala hal yang kau lakukan, kau takut dianggap salah, takut dianggap beda dan lain dari mereka. Padahal sebenarnya kau juga tidak akan menemukan kebahagiaan dalam hidup jika terus saja mengharapkan penilaian orang lain tentang dirimu. Tiap manusia memiliki isi hati, maksud dan cara bersikap yang berbeda-beda, dan percuma jika kau hanya mengharapkan mereka memiliki satu anggapan saja terhadapmu. Tapi kau dan ragamu hanya satu dan memiliki satu hati pula, maka cukuplah kau yang selalu berusaha agar cara bersikapmu terhadap mereka sesuai dengan satu maksud dari isi hati. Cukup satu saja, yaitu berpikir positif.
Dengan begitu, bukan berarti tulisan ini ingin menyatakan bahwa apa yang kau lakukan selama ini selalu benar dan tidak pernah salah, tidak sama sekali. Karena memang butuh waktu dan pengorbanan untuk belajar memahami isi hati. Awalnya, kau bisa saja berulang-ulang melakukan kesalahan karena belum bisa mengikuti isi hati, karena kau tidak ingin merasa tersisih, tidak ingin meninggalkan hal yang telah menjadi kebiasaan, atau menjauhi apa yang disenangi serta terpisah dari hal yang dicintai, meski itu semua memang tidak sesuai dengan isi hatimu. Jadi, justru sebenarnya kau adalah manusia yang sering melakukan kesalahan, tapi ingin berubah dan coba belajar memahami isi hati, dengan konsekuensi harus rela mengorbankan semua yang bertentangan dengan isi hati. Lantas kenapa tidak, jika memang itu yang terbaik untuk mu.
Sejarah mencatat bahwa orang berhasil adalah mereka yang selalu belajar dari banyak kesalahan, dan dari awal mereka hanya mempunyai harapan, tanpa pernah tahu secara pasti akan hasil yang didapat. Tapi karena mau belajar dan sungguh-sungguh dalam berusaha, maka apa yang tercapai pun pada akhirnya melebihi dari apa yang pernah diharapkan. Dan lantas mereka tidak menjadi angkuh atas apa yang telah dicapai, karena pengalaman terdahulu yang mengajarkan bahwa itu adalah tindakan sia-sia yang dapat menjatuhkan mereka kembali pada kubang kesalahan.Tentunya itu juga karena dorongan kata hati yang mereka yakini. Dan tanpa perlu memahami berbagai teori tentang orang yang telah berhasilpun, sebenarnya kita semua sudah tahu bahwa hasil yang baik hanya akan tercapai dengan niat dan cara yang baik pula.
Yang menulis tulisan ini bukanlah orang yang telah berhasil, dia juga masih sering melakukan kesalahan dan mementingkan pendapat orang lain dibandingkan kata hatinya sendiri. Berbagai tulisanya kerap dianggap basa-basi yang tak pantas disebut tulisan dari seorang penulis. Tapi semoga dengan menulis ini, dikarenakan kata hatinya yang berbicara. Karena untuk kesekian kalinya dia merasa tulisanya dapat bermanfaat, setidaknya buat dia sendiri. Dari tulisan ini, dia mungkin ingin menyampaikan bahwa selalu mencoba berpikir positif terhadap mereka, mereka yang diantaranya adalah orang tak dikenal, teman ataupun saudara.
Yakinlah pada kata hatimu.
HABIB SYAIKHON BIN MUSTHOFA ALBAHAR ( Kelakuan Nyeleneh seorang Wali )
Saya penasaran ingin sekali berjumpa dengan Habib Syaikhon bin Mustofha Al bahar, ada cerita- cerita menarik yang saya dengar dari guru guru dan teman teman saya yang pernah berjumpa dengan beliau bahwa ,beliau seorang ulama min Awliyaillah yang Mazdub . Kelakuan yang sering diperlihatkan memang terasa aneh dan ganjil diluar kebiasaan manusia (khorikul a’dah ) bagi pandangan mata awam kita. Sebut saja ketika Habib Syaikhon menghadiri Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW pada saat Mahalul qiyam sedang berlangsung , Habib Syaikhon hanya duduk dan nampak asyik makan dan mengacak acak hidangan yang ada di hadapannya. Para jamaah terperanjat di buatnya namun bagi yang mengerti dan memahami beliau hal tersebut di diamkan saja dan tak ada satupun jamaah yang menegurnya. Dan yang lebih mengherankan lagi sewaktu adzan magrib berkumandang tepat di depan Musholla Habib Syaikhon membawa gitar dan teriak teriak di saat jamaah akan melangsungkan sholat maghrib, tentu saja hal ini membuat marah sang Marbot Mushollah dengan lantang sang Marbot mencaci maki Habib Syaikhon habis habisan. Tiba tiba Habib Syaikhon menjepit leher Marbot tersebut dan di benamkan kedalam ketiaknya, dan tiba tiba marbot tersebut menangis sambil mengatakan ” saya lihat Mekkah….saya lihat Ka’bah dan Marbot tersebut meminta maaf kepada Habib Syaikhon.
Menurut seorang kerabat beliau bernama Sania ibrahim , bahwa untuk dapat bertemu dengan Habib syaikhon mudah saja asalkan punya niat yang baik untuk bersilahturahim , karena Habib Syaikhon sering berpindah pindah tempat , kadang beliau ada di Makam Ayahnya di Masjid Baidho di lubang buaya jakarta timur dan terkadang ada di Gang Nangka Bintara 3, dan menurut cerita kalau bertemu beliau akan di sambut Khodam ( jin ) di depan pintu dan hanya orang orang yang sholeh dan punya niat yang baik yang dapat berjumpa dengan beliau dan apapun kata kata Habib Syaikhon dan kelakuan beliau jangan di terjemahkan dan diartikan seenaknya karena yang tahu maksudnya hanya Alloh swt.
Berbicara tentang sosok Waliyulloh di jaman sekarang memang sangat sulit di nalar oleh akal sehat, Kalau jaman dahulu sosok Waliyulloh dapat di jumpai di setiap daerah karena derajatnya di tinggikan dan di tampakkan karomahnya oleh Alloh SWT sebagai “Himmatul Ummah” sosok manusia yang mempunyai kharisma dan karomah tinggi di hadapan Ummat seperti kisah perjuangan Wali songo tapi di jaman sekarang Derajat dan Karomah kewaliaan tidak semua di tampakkan dan banyak Para Waliyulloh menutup diri dari pandangan sifat manusia karena takut terjadi Fitnah di tengah umat karena kehidupan manusia yang selalu berubah cendrung kepada kehidupan duniawiyah dan jauh dari ilmu agama. Ada beberapa pendapat dari teman teman saya yang mengangap bahwa apa yang saya ceritakan tentang Habib Syaikhon mengada ada , mengandung Kufarat, tahayyul akan tetapi bagi Waliyulloh kemampuan tersebut bukanlah sesuatu yang beliau cari itu adalah anugrah alloh yang diberikan kepada para waliyulloh ,Karena mereka telah melakukan pengembangan potensi ruh dengan cara melakukan amal khariqul ‘adah (amal ibadah yang melampaui lazimnya kesanggupan manusia), lalu Allah pun menganugrahkan kepada mereka kemampuan khariqul ‘adah (kemampuan melakukan sesuatu hal yang berada di luar kemampuan lazimnya manusia).
Teman teman saya yang menolak karamah al-awliya’, disebabkan mereka tidak mengetahui persoalan ini kecuali kulitnya saja. Mereka tidak mengetahui perlakuan Allah terhadap para wali. Sekiranya orang tersebut mengetahui hal-ihwal para wali dan perlakuan Allah terhadap mereka, niscaya mereka tidak akan menolaknya. Penolakan mereka terhadap karamah al-awliya’, disebabkan oleh kadar akses mereka terhadap Allah hanya sebatas menegaskan-Nya bersungguh-sungguh di dalam mewujudkan kejujuran (al-shidq); bersikap benar dalam mewujudkan kesungguhan sehingga meraih posisi al-qurbah (dekat dengan Allah). Sementara mereka buta terhadap karunia dan akses Allah kepada hamba-hamba pilihan-Nya. Demikian juga buta terhadap cinta (mahabbah) dan kelembutan (ra’fah) Allah kepada para wali. Apabila mereka mendengar sedikit tentang hal ini, mereka bingung dan menolaknya.
karomah yang dimiliki para Wali adalah merupakan sesuatu perkara yang terjadi diluar kemampuan akal manusia biasa untuk memikirkan atau menciptakan .perkara itu ( karomah) diberikan Alloh kepada hambanya yang sudah terang kebaikannya( shalehnya), setiap sikap perbuatan dan ucapannya serta keadaan hatinya selalu bergerak sesuai dengan tuntunan ajaran Islam yang dibawa oleh Rosululloh SAW baik dalam segi syaria’t atau aqidah serta akhlaknya.
Oleh karena itu bagi Waliyulloh dengan Karomahnya kadang-kadang tampak keanehan-keanehan baik dalam sikap tindakan dan ucapan yang tidak begitu saja mudah bagi akal manusia biasa untuk memahaminya. Sebagai contoh karomah ialah seperti dapat dilihat adanya peristiwa Maryam yang disebut dalam surat Ali Imron ayat 37, juga peristiwa Ashabul Kahfi dalam surat al kahfi ayat 25 dan tidak berbeda pula halnya dengan Karomah-karomah Para Habaib dan Para Ulama yang saya tulis tersebut seperti karomahnya Al Habib Abduloh bil Faqih yang selalu bertemu langsung dengan Rosululloh begitu pula dengan KH.Hamim Djazuli (Gus Miek) yang melakukan dakwahnya ditempat hiburan malam/diskotik begitupun dengan Habib syaikhon al bahar. Semoga Alloh dapat mempertemukan saya dan mungkin para muhibbin dengan Habib Syaikhon Al bahar sekedar mencium tangan dan menjabat tangannya sebagai rasa Mahabbah dan cinta terhadap Ulama dan waliyulloh. Wallohu a’lam
al habib husien al idrus
Habib Husein al-Idrus Luar Batang Pendiri Pesantren Pertama di Bumi Jayakarta Sebagai kota besar, wajar jika Jakarta tak bisa lepas dari kesan sebagai gudang tempat maksiat dan negatif. Tapi bukan berarti yang baik tak ada di kota metropolitan itu. Maka tak salah jika ada yang mengatakan, di Jakarta segalanya ada, mulai dari yang paling jelek hingga yang terbaik, tempat mencerburkan diri dalam kubangan dosa sekaligus menimba pahala. Kawasan tua bernama "Kota" contohnya. Jika malam hari tiba, lampu-lampu tempat maksiat semarak, seakan saling berlomba menggaet siapa saja yang lewat. Tapi siapa sangka tak jauh dari sana terdapat makam seorang waliyullah, tepatnya di daerah bernama Luar Batang. Keberadaan Luar batang sendiri menyimpan satu kisah gaib. Satu kawasan ibukota sebelah utara, di pesisir pantai itu, konon dulunya merupakan satu pulau kecil, merupakan penjelmaan dari hanya sebatang pohon yang berdiri di atas gunung Batang. Kisah ajaib itu terkait dengan peran seorang wali agung yang datang dari Hadramaut Yaman. Husein namanya. Nama lengkapnya Habib Husein bin Abi Bakr al-Idrus. Menurut catatan sejarah, beliau datang ke Jakarta (Batavia) pada 1746. Alkisah, suatu ketika seorang opsir Belanda lewat di depan Habib Husein. Tanpa dinyana, Habib memanggil orang itu lalu menepuk pundak perwira itu, dan berkata, "Anda harus kembali ke negeri Anda. Anda akan menjadi orang besar." Perwira itu hanya bisa tertegun. Tetapi lantaran cerita karamah Habib Husein sudah masyhur di kalangan masyarakat Betawi, perwira itu pun menuruti sarannya. Dan betul saja, tak lama kemudian terdengar kabar bahwa ia telah diangkat menjadi seorang gubernur. Maka, sebagai ungkapan rasa terima kasih, sang gubernur baru itu datang lagi ke Batavia hanya untuk bertemu dengan Habib Husein, guna memberikan hadiah khusus, yang bentuk dan jenisnya terserah Habib. Tetapi sesampai di sana, ternyata Habib menolak segala pemberian itu. Akhirnya, karena didesak terus, Habib memilih satu kawasan tempat tinggal sebagai pusat dakwah, yang tak lain adalah Luar Batang (Konon, dulunya kawasan yang dimiliki Habib itu seluas 30 hektar, tetapi kemudian dibagi-bagikan kepada warga sekitar). Sejak itu, Luar Batang menjadi salah satu basis Islam di bumi Jayakarta. Lewat pesantren yang didirikan, Islam dapat menyebar ke seantero Betawi. Di Luar Batang pula Habib menghabiskan sisa hidupnya, hingga wafat. Kini, Luar Batang menjadi kawasan padat penduduk. Bahkan karena dekat pantai, kawasan itu terkesan kumuh. Tetapi toh tempat itu tak pernah sepi oleh pengunjung. Selain Museum Bahari, di sana terdapat makam Habib Husein yang menjadi tujuan banyak peziarah. Tidak sedikit para peziarah yang 'bermukim' di sana hingga berbulan-bulan, demi ngalap barokah sang Habib (Bahkan tak jarang yang datang dari luar Jawa dan mancanegara, seperti Timur Tengah, Eropa dan Afrika). Makam yang tak pernah sepi itu kian ramai jika malam Jumat tiba. Begitu juga pada peringatan Maulid Nabi dan haul wafat beliau (karena wafat pada bulan Ramadan, peringatan haulnya diadakan pada bulan Syawal). Hingga kini, sebagian besar rombongan Walisongo yang datang dari arah timur menjadikan makam Habib sebagai 'bonus' setelah berziarah ke wali kesembilan yakni makam Sunan Gunung Jati Cirebon. Dari Luar Batang, umumnya mereka melanjutkan perjalanan ke Banten, ziarah ke makam Sultan Hasanuddin bin Sunan Gunung Jati, dan makam waliyullah Syekh Nawawi. Kalau kemudian makam Habib Husein menjadi satu tujuan para peziarah, itu tak lain karena keagungan Habib Husein, baik budi pekerti maupun ilmu pengetahuan agama. Beliau adalah da'i besar di kawasan Batavia abad ke-18 hingga Islam tersebar luas di sana. Seorang ilmuwan Belanda Dr Karel Steenbrik dalam tulisannya mengatakan bahwa beliau adalah salah satu ulama keturunan Hadramaut yang sangat disegani pada saat itu. Generasi pendakwah asal Hadramaut berikutnya antara lain Habib Utsman (Mufti Batavia akhir abad ke-19), Habib Abdurrahman al-Misri, Habib Ali bin Abdurrahman al-Habsyi (Kwitang), Habib Salim bin Abdullah Sumair, Habib Salim bin Jindan, Habib Umar al-Attas dan lainnya. Untuk menuju ke makam Habib Husein tidaklah sulit. Dari arah Ancol atau Glodok Kota, Anda tinggal mencari arah Pasar Ikan atau Museum Bahari di kawasan utara Kota. Kalau menggunakan angkutan umum, dari stasiun atau terminal Kota Anda dapat menumpang taksi, bajaj atau ojek. Yang menarik, juga tersedia sepeda onthel dengan sadel belakang yang sudah modified hingga dijamin empuk seperti sepeda motor. (washiel hifdzy)
kramat empang bogor
Al Habib Abdullah bin Muhsin bin Muhammad bin Muhsin bin Husin Al-Atthas dilahirkan di desa Kasri daerah Hurah, Hadramaut, pada hari Selasa 20 Jumadil Awwal tahun 1265 H. bertepatan dengan tahun 1849 M. Dikalangan awam lebih mengenal dengan sebutan Habib Kramat Empang.
Beliau berguru kepada :
1. Syaikh Umar bin Faraj bin Sabbah
2. Al-Habib Abubakar bin Abdullah Al-Atthas
3. Al-Habib Sholeh bin Abdullah Al-Atthas, di desa Ammad, Hadramaut.
4. Al-Habib Ahmad bin Muhammad Alhabsyi
5. Al-Habib Abdullah bin Alwi Alaydrus, di desa Burdi, Hadramaut, disini ia bermukim cukup lama untuk menuntut ilmu dan membaca beberapa kitab diantaranya kitab yang dikarang oleh Habib Ahmad bin Zain Alhabsyi.
6. Al-Habib Ahmad bin Muhammad Al-Muhdor
7. Al-Habib Ahmad bin Abdillah Albar
8. Syekh Abdullah bin Ahmad Baswedan, di Karbah, Hadramaut, ia juga bermukim disini.
Pada tahun 1284 pergi melaksanakan Haji di Mekah , setelah menunaikan ibadah Haji tidak pulang ketempat tinggalnya Kasri, Hadramaut tapi langsung menuju Pulau Jawa, Indonesia menuntut ilmu kepada Habib Ahmad bin Muhammad bin Hamzah Al-Atthas, di Pekojan, Azzawiyah. Setelah beberapa lama menuntut ilmu kemudian ia pergi menuju Pekalongan,Jawa Tengah. Setelah itu iapun menetap di Empang, Bogor.
Al-Habib Abdullah mengadakan pengajian/majelis ta’lim dirumah kemudian di Masjid yang didirikannya dekat rumahnya yang diberi nama Masjid An-Nur. Muridnya banyak sekali, diantaranya adalah :
1. Al-Habib Alwi bin Muhammad bin Thahir Al-Haddad, Bogor.
2. Syekh Abdullah bin Muhammad Arfan Baraja’, yaitu sewaktu berkunjung ke Indonesia, dimana ia mencatat banyak nasehat-nasehat dari habib Abdullah, kemudian kembali ke Tarim, Hadramaut dan wafat disana.
3. Al-Habib Abdullah wafat di Empang, Bogor pada hari selasa tanggal 29 Zulhijjah 1351 Hijriyah bertepatan masuknya dzohor bertepatan akhir tahun, dimakamkan hari Rabu tanggal 1 Muharam 1352 H.
Beliau berguru kepada :
1. Syaikh Umar bin Faraj bin Sabbah
2. Al-Habib Abubakar bin Abdullah Al-Atthas
3. Al-Habib Sholeh bin Abdullah Al-Atthas, di desa Ammad, Hadramaut.
4. Al-Habib Ahmad bin Muhammad Alhabsyi
5. Al-Habib Abdullah bin Alwi Alaydrus, di desa Burdi, Hadramaut, disini ia bermukim cukup lama untuk menuntut ilmu dan membaca beberapa kitab diantaranya kitab yang dikarang oleh Habib Ahmad bin Zain Alhabsyi.
6. Al-Habib Ahmad bin Muhammad Al-Muhdor
7. Al-Habib Ahmad bin Abdillah Albar
8. Syekh Abdullah bin Ahmad Baswedan, di Karbah, Hadramaut, ia juga bermukim disini.
Pada tahun 1284 pergi melaksanakan Haji di Mekah , setelah menunaikan ibadah Haji tidak pulang ketempat tinggalnya Kasri, Hadramaut tapi langsung menuju Pulau Jawa, Indonesia menuntut ilmu kepada Habib Ahmad bin Muhammad bin Hamzah Al-Atthas, di Pekojan, Azzawiyah. Setelah beberapa lama menuntut ilmu kemudian ia pergi menuju Pekalongan,Jawa Tengah. Setelah itu iapun menetap di Empang, Bogor.
Al-Habib Abdullah mengadakan pengajian/majelis ta’lim dirumah kemudian di Masjid yang didirikannya dekat rumahnya yang diberi nama Masjid An-Nur. Muridnya banyak sekali, diantaranya adalah :
1. Al-Habib Alwi bin Muhammad bin Thahir Al-Haddad, Bogor.
2. Syekh Abdullah bin Muhammad Arfan Baraja’, yaitu sewaktu berkunjung ke Indonesia, dimana ia mencatat banyak nasehat-nasehat dari habib Abdullah, kemudian kembali ke Tarim, Hadramaut dan wafat disana.
3. Al-Habib Abdullah wafat di Empang, Bogor pada hari selasa tanggal 29 Zulhijjah 1351 Hijriyah bertepatan masuknya dzohor bertepatan akhir tahun, dimakamkan hari Rabu tanggal 1 Muharam 1352 H.
Langganan:
Postingan (Atom)